Minggu, 26 Agustus 2012
07.24
Warkop NDerlin
Author:
newsbuzzz
" Mimpi saja tidak cukup, Kamu harus berfikir untuk mewujudkan mimpimu, kamu harus berani untuk membayar 'Harga' mimpi tersebut. Kamu harus siap dengan segalah kalimat kasar, sinis dan cacian, itulah harga yang harus dibayar demi meraih mimpi"
Kalimat diatas saya Copas dari salah seorang guru(Teman Diskusi)Yusran Darmawan, disalah satu tulisannya "Inspirasi Paolo Coelho" saya kembali teringat saat Bung Yusran Darmawan menuliskan ini dengan buku yang saya baca "Sang Alkeimis" saat saya masih Mahasiswa Baru(MABA). Buku Sang Alkeimis yang dipinjamkan dari salah seorang senior Rahmat Derryawan, buku ini berkisa tentang seorang anak yang menaklukkan mimpi lewat alam. Seperti buku Andrea Hirata dengan sedikit meminjam kalimatnya "Bermimpilah maka alam akan memelukmu".
Di penggalan tulisan yang membuat saya kemudian bangkit seperti memasukkan Roh kedalam Raksasa yang sedang tidur begini kalimatnya " Kita terlahir dari satu rahim budaya yang sering tidak mendewasakan, ketika seorang sahabat membuka warung kecil di depan rumah. Semua tetangga langsung mencemooh. Sahabat itu dianggap bodoh, tidak tau selerah pasar, dianggap tidak paham budaya jual-menjual, atau dianggap tidak punya malu karena seorang alumnus perguruan tinggi bergengsi, kok tiba-tiba membuka warung"
Copas dari kalimat Bung Yusran Darmawan membangkitakan gairah ingin hidup seribu tahun lagi, ternyata cemoohan sesuatu yang tidak harus kita tekuni dalam-dalam. Ternyata kita harus berfokus pada tujuan yang akan kita buat, karena ternyata membuat jalan emas tidak semuda membalikkan telapak tangan. Ketika Bung Yusran menuliskan ini saya sangat menyimak baik-baik walau saat ini beliau masih berada di Amerika dan melanjutkan study di University Ohio saya banyak belajar dari beliau.
Terlepas dari Copas tulisan diatas lagi-lagi inpirasi terbesar saya ingin membangun mimpi satu kegiatan Warung Kopi Inspirasinya dari tulisan-tulisan dan semangat beliau. Memang tidak semuda membalikkan telapak tangan, karena cemoohan kian gencar menghampiri, tapi tak mengapa karena mencoba lebih baik dari pada tidak sama sekali. Rasanya berat benar jika dipikir-pikir tapi lagi-lagi saya tidak mendalami cemoohan, karena merangkai mimpi sama dengan merangkai kalimat menjadi satu tulisan kita butuh perenungan.
Kenapa jalan ini saya ambil?kenapa saya tidak mengikuti anjuran kawan menikah lebih baik? atau lanjut S2 biar bisa cerdas dan berkarakter. Terlepas dari itu semua saya hanya ingin belajar menghargai proses dengan karya, salah satunya membangun usaha kecil kecilan. Kenapa banyak para sarjanah yang gagal dalam bisnis, karena sarjanah terlalu banyak rel yang dia gunakan ketimbang yang bukan sarjanah, Warkop Haji Anto, Kopi daeng, Pallubasa Srigala dll mereka bukan keluaran universitas tapi tradisi dan kebiasaan dagang mereka lebih bisa dibanding Sarjanah, jadi potensi bukan hal yang luar biasa, tapi kebiasaan melakukan lah yang luar biasa.
Refleksi membuat Forum Komunikasi Osis di Kendari, Membuat IKA Alumni SMU, Membuat Organisasi Simpul Kendari di Makassar salah satu pelajaran yang berarti. Walau kadang dalam sejarah organisasi kadang kita terlupakan karena saya tidak pernah berharap ada imbalan apa-apa dari semua itu. Cukuplah iya menjadi penggalan masa lalu, dan tentunya gairah mendirikan satu usaha Warkop adalah keberlanjutan mendirikan sesuatu yang aneh aneh. Di satu sisi saya masih mengejar bagaimana bisa lanjut sekolah, kemudian menikah tapi itu terlalu sempurna maka kesempurnaan itu saya harus tunda sejenak.
Maka dengan nekat senekat nekatnya saya kemudian memutar semangat ini sampai 90 derajat bagaimana mendirikan satu ruang diskusi "WARKOP NDERLIN" memang sedikit narsis. Tapi tak mengapa saya masih membutuhkan cemoohan dan cacian sinis untuk lebih giat dan bangkit dari keterpurukkan. Akhirnya saya temukan lahan yang dipenuhi dengan rimbun rerumptan dan pohon belukar. Berlokasi di THR(Tempat Hiburan Rakyat) saya banyak dapat cerita-cerita perebutan lahan tersebut. Perebutan lahan antara Pemerintah dengan warga setempat, lahan tersebut merupakan lahan sengketa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar