Setan apa yang merangsek masuk dihati mereka-mereka yang membunuh saudara se Islam? Kenapa mereka tiba-tiba beringas bagai srigala menyergap sang angsa. Hanya karena persoalan beda tafsiran memahami Islam, perbedaan imam kita kemudian menampilkan watak beringas. Syi’ah Sampang yang dibantai, ibarat miniatur islam zaman Umayyah Abbasiyah terulang di Surabaya. Padahal sama-sama menganut Islam lantas apakah sejarah pembantaian akan terulang secara terus menerus?.
Dimana kemanusiaan manusia yang notabenenya memiliki hati dan perasaan, Tuhan menciptakan manusia bukan untuk dibunuh. Membunuh makhluk Tuhan berarti meniadakan Tuhan sebagai kuasa tunggal yang mencipta dan mematikan. Kalau manusia sudah bertugas mematikan, berarti manusia tersebut sudah mengganti tugas Tuhan yang mematikan makhluk manusia.
Kenapa orang Indonesia menyimpan watak Israil yang membantai warga palestina, kenapa Indonesia seperti Thailand yang membantai warga muslim?. Apakah karena persoalan kuat dan lemah adalah sebab musabab dari semua Konflik?. Kenapa yang kuat tidak menghargai minoritas, lantas apakah pembunuhan di Surabaya Warga Syi'ah adalah Jihat?.
Mungkin kita perlu tafsir ulang tentang definisi Jihat, apakah dikatakan jihat jika kita membunuh kaum minoritas yang terlalu sering di pertontonkan di Indonesia. Gelombang issu yang terus mewarnai media massa hari ini salah satu bukti bahwa kita tidak bisa akur. Sehingga kita bisa menyimpulkan kalau pembantaian di Surabaya Murni pembantaian Kelompok Mayoritas ke Kelompok Minoritas, sama seperti yang terjadi di Palestina.
Indonesia di injak-injak warga Malaysia kita hanya diam dan menjadi penonton, tapi jika mereka melihat ada satu paham yang menampilkan dirinya, dalam hal ini memberikan pencerahan mala kita membantainya. Kalau mereka kuat sebaiknya mereka ke Palestina bantu warga muslim disana, jangan membantai warga muslim sendiri. Hanya karena persoalan beda buku bacaan dan kemanusiaan hilang, alangkah biadabnya kemanusiaan itu.
Menurut saya ini hanya pengalihan Issu yang dilakukan oleh pemerintah terhadap issu-issu yang memojokkan Pemerintah. Sehingga gampang saja Pemerintah membelokkan issu jika mereka sudah terpojok. Begitu kejam bangsa ini melihat anak Negerinya dibantai secara sadis, tidak boleh membawa pencerahan buat warganya. Sehingga digelembungkanlah Issu aliran sesat, sesuatu yang berualang-ulang dipertontonkan dan kita hanya asik masik menyaksikan peristiwa pembantaian itu.
Korupsi boleh saja berkurang namun lagi-lagi pembunuhan makin meningkat, Issu aliran sesat begitu reaktif ditelinga masyarakat. Kondisi demikian yang disenangi oleh Pemerintah saat ini karena Media mengemas dengan seenaknya lalu menghakimi kaum minoritas sebagai kaum kafir. Alangkah rusaknya bangsa ini yang begitu gencar melakukan pengalihan Issu agar mereka tidak terpojok pada kasus korupsi. Harus ada korban untuk satu kali pengalihan issu.
Mereka yang di provokasi sedikit merasa bangga karena mereka telah berjihat dijalan Tuhan, padahal Tuhan menciptakan Agama Islam bukan untuk jadikan martir. Apalagi diantara mereka yang membantai mungkin tidak paham akar sejarah pembantaian tersebut. Jika memang mereka membunuh atas perintah Tuhan apakah hal ini sudah di contohkan oleh Rasulullah SAW?. Kalau memang hanya persoalan paham yang dianut masing-masing kelompok, kenapa kita harus membunuh. Lagian yang melakukan penyerangan belum tentu mereka rajin masuk masjid.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar