Minggu, 26 Agustus 2012

Menjadi Jurnalist,NGO,Konsultan Politik,Kontraktor


Pernah satu kisah di Harian Pedoman Rakyat saat mengejar berita...
Tuntutan menjadi seorang wartawan memang berat, walau pun chanel banyak namun kehidupan seorang wartawan jauh berbedalah dengan seorang PNS Tambang atau PNS KPU. Dengan modal HP dan kertas catatan sebagai pemburuh berita adalah syarat turun dilapangan. Pengalaman menjadi seorang wartawan memang ribet di banding dengan menjadi seorang aktifis yang hanya mengandalkan Sandal jepit dan mega Phone. Penampilan norak, rambut gondrong, badan bau dan lagi-lagi pakean compang camping.

Aku terlantar dialam bebasnya menjadi manusia-manusia yang diatur oleh kepentingan perusahaan media, sementara aku hanya ingin mendalami bagaimana mengejar berita. Problemnya adalah keinginan dan kebutuhan profesionalisme kadang tidak seimbang dengan  apa yang kita harapkan maka satu satunya jalan adalah mengambil jalan pintas, menjadi wartawan abal-abal. Lantaran berita makin sepi maka aku singgah di sebuah lokalisasi prostitusi Kota Makassar, kemudian aku mewawancarai seorang wanita peramu sex di Kota Makassar Jalan nusantara. Aku bersama dengan seorang teman asal jeneponto, dia juga seorang aktifis LMND(Liga Mahasiswa Demokrat) seorang sahabat yang aku tidak tau sekarang dia berada dimana. Setelah kami mewawancarai seorang peramu sex kami pun menyusun hasil wawancara disebuah halte di pantai Losari, lantaran capeknya karena siang malam mengejar berita akhirnya kami pun urung kan niat untuk tidur dan istrahat di halte tersebut.

Esoknya kami pun kembali ke kantor untuk menerima perintah dari meja redaksi berita apa lagi yang aktual untuk diangkat, selepas dari kantor kami bersama teman-teman wartawan pulang menggunakan mobil angkutan, namun aku niatnya menuju kampus karena ada undangan membawakan materi LK 2 HMI di kabupaten Wajo. Sementara aku sudah dapat perintah untuk memwawancarai salah seorang narasumber, dalam perjalanan Mobil kami terbalik dan masuk kedalam parit tepatnya di Mall Ratu Indah. Untung saja nyawa kami masih panjang seluruh penumpang yang ada di dalam angkutan tersebut tidak ada yang luka parah. Beginilah resikonya menjadi seorang wartawan sesampai di kampus aku kemudian merasakan trauma kecelakaan diatas angkut, sehingga niat untuk melanjutkan menjadi seorang wartawan berakhir sudah.

Tidak menjadi seorang wartawan bukan berarti aktifitas ku kemudian terhenti namun pekerjan-pekerjan lain makin menumpuk. Tentunya kembali ke jalur Mahasiswa menjadi agen sosial control, dan bergelut di dunia penulisan, salah satu upaya menggiatkan keinginan menulis aku bersama teman-teman membuat satu ontologi puisi menjadi sebuah buku bersama 101 penyair Kota Makassar. Menulis dibeberapa media Kota makassar makin giat di harian Fajar, Koran Identitas dan Majalah Makassar terkini menjadi langganan untuk menulis beberapa opini atau artikel-artikel.

Selang beberapa lama kemudian aku mulai melihat kehidupan ini makin tidak nyaman, kegelisahan akan masa depan makin menakutkan. Akhirnya aku terjun ke panggung politik Kota Makassar, dengan pengalaman bertarung di dunia kampus hampir 1 tahun lamanyA. Uku bersama teman-teman menyusun agenda-agenda politik kandidat Gubernur Sulawesi Selatan. Namun nasib sial melanda karena kandidat yang aku usung kalah, akhirnya aku rungkan niat untuk bergabung di sebuah NGO(LSM) mulai riset pilkada hingga riset media aku jalankan. Tentunya menulis adalah salah satu semangat yang mengantarkan aku pada dunia ku yang sebenarnya.

Seiring berjalan waktu aku pun nekat untuk mendaftarkan diri di IILF adalah satu fondation yang bergerak memberikan bantuan beasiswa pendidikan keluar negeri. Begitu aku tes aku hanya sampai di tahap ketiga karena tesnya selama satu tahun, begitu aku mulai menyusun tes selanjutnya akupun disuruh hijra ke Kota asal, tepatnya Kota Kendari untuk mendaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil. Akhirnya musnah sudah harapan untuk melanjutkan S2, maka pulanglah aku ke Kota kendari. Niat untuk menjadi seorang PNS gagal karena beberapa masalah yang tidak bisa aku hadapi, karena untuk menjadi PNS di kota ini kita harus membayar sebanyak 60 juta.

                                                         *    *    *

Hingga saat ini aku masih berkeyakinan bahwa setiap orang bisa membagi waktunya dengan pekerjaan lain walau dia seorang penulis dia bisa menjadi seorang kontraktor. Menjadi seorang kontraktor memang cukup gila bila dibandingkan dengan profesi lain. Karena untuk mendapatkan sebuah proyek kita harus bersaing dengan para kontraktor dengan segala macam cara. Misalnya saat proyek pembuatan Tanggul Penahan Banjir di gunung jati sampe-sampe warga setempat membawa parang dan ribetnya pengurusan berkas-berkas. Kemudian proyek jalan raya di Konawe Utara yang memakan waktu 3 bulan mulai dari bertengkar hingga hampir berkelahi menjadi santapan. Walaupun dengan harus membuang kesempatan Beasiswa S2 ke Korea karena aku yakin setiap kita menutup 1 pintu maka akan ada 7 pintu yang akan terbuka.

Bulan depan tepatnya harus fokus lagi dibeberapa pekerjaan tentunya masih di dunia proyek dan birrokrasi, aku mengikuti semangat sodara saya Agussalim Halip Pagala " Kita sudah bosan jadi orang Miskin, Karena Kita Orang Miskin Maka Kita harus Bekerja Keras"...

" Hidup itu kaya kertas yang dilipat lipat"

0 komentar:

Posting Komentar