Jumat, 31 Agustus 2012

Menahan Hujan Dalam Payung Kendari Kreatif; Menendang Gurita Kapitalisasi Ekonomi


Saya senang kalimat teman saya Puding, "Kita tidak butuh Sempurna untuk Bisa Bergerak" Kalimat yang singkat namun membuat saya berfikir. Kalimat menunggu berarti menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, menunggu berarti menahan diri untuk bertindak. Sehingga kata menahan sendiri menjadi sebuah kefakuman diri untuk tidak melakukan aktifitas menuju sempurna.
Namun ditengah arus gelombang kapital yang semakin sulit terbendung, bagai hujan dan halilintar maka kita butuh pertahanan diri untuk membendung gurita kapital. Perekonomian Kota Kendari boleh lah dibilang setara dengan Kota Kota Kelas menengah yang ada di Indonesia. Hal ini ditandai dengan masuknya berbagai macam Investor Kelas Dunia untuk menancapkan saham nya di Kota Kendari. Mereka tidak segan-segan untuk menikam Bumi Anoa dengan pancangan besi baja yang menjurus tepat di tanah Anoa.
Teluk Kendari yang merupakan Simbol Kota Kendari yang memiliki estetika sebagai sumber ekonomi pun ikut tersedot dalam gurita kapital. Tajamnya kuku jembatan bahteramas, revitalisasi teluk, hingga menjamurnya Hotel berbintang di pinggir teluk menjadikan tanah anoa yang kita tempati semakin tidak perawan lagi. Di pinggir teluk ada juga kafe-kafe tenda yang dihuni oleh mereka-mereka yang haus hiburan wanita yang menjajakkan sex dan minuman keras, hal ini semakin menunjukkan bahwa tempat ini sangat komersil.
Memang kapital sulit dibendung, namun Kendari yang memiliki letak geografis pegunungan cukup familiar bila dikatakan Kendari ini hampir mirip dengan Kota Pare-pare, dan ibu Kota Sulawesi Barat Mamuju. Jumlah penduduk yang berada di kisaran 300 ribu jiwa merupakan sasaran empuk kapital untuk bermain-main dikota ini. Namun mereka yang melakukan proses perdagangan di tempat ini adalah mereka yang hanya berdagang mengumpul hasil dagangan dan membawa keluar. Sehingga wajar jika kita katakan pedagang lokal hanya meraih ampas-ampas perdagangan, atau sebagian kecil saja, karena sebagian besar dirampas oleh kelompok ekonomi kapital.
Sehingga keinginan untuk membendung arus dominan maka ekonomi kerakyatan dalam hal ini industri mikro harus digiatkan guna membangun perekonomian kelas bawah. Kendari Kreatif tentunya salah satu paguyuban yang intens memberikan warna tersendiri guna menggiatkan ekonomi kerakyatan masyarakat. Hal ini ditandai dengan adanya kelompok muda yang resah terhadap kondisi perekonomian Kota kendari yang hanya punya budaya Konsumsi namun tidak dibarengi dengan kemampuan Produksi. Keresahan ini tentunya dirasakan oleh kelompok muda yang ada dikota-kota lainnya di Indonesia.
Untuk menjadikan Kendari Kreatif sebagai lembaga baru yang mencoba mengikis produk luar, maka dengan adanya pertemuan-pertemuan dari warkop ke warkop hal ini memberikan angin segar buat masyarakat yang selama ini berparadigma kalau sudah jadi PNS maka hidup sudah mapan. Salah satu upaya lahirnya Kendari Kreatif adalah bagaimana merubah paradigma lama yang selalu menjadikan birokrasi sebagai ladang perekonomian. Sebagai masyarakat kreatif tentunya hal ini tidak semuda membalikkan telapak tangan, karena merubah paradigma masyarakat membutuhkan waktu yang cukup lama.
Jika kita umpamakan Kendari Kreatif sebagai payung untuk menahan laju pertumbuhan pembangunan maka dalam hal ini kapitalisasi ekonomi sebagai hujannya. Kata kuncinya adalah bertahan yang berkualitas,dan beregerak yang berkualitas.

0 komentar:

Posting Komentar