Minggu, 26 Agustus 2012

Mantan Aktivis, Masih Aktivis, Nyaris Jadi Aktivis, Aktivis Pinggiran


Kata Idealisme sebaiknya disudah harus berganti nama, Idealisme mahasiswa, Idealisme Sarjanah, idealisme itu semboyan yang selalu mereka gunakan sebagai tameng heroisitas seorang aktivis. Jika memang Idealisme sudah sepantasnya dirubah maka sebaiknya kalimat idealisme dimasukkan saja ke dalam tong sampah. Dari pada dia menjadi kalimat apologis bagi setiap teman-teman mahasiswa yang berlama-lama dikampus sebaiknya diganti saja.

Kata Aktivis dan Idealisme saling linear tapi dalam kenyatannya mereka gunakan sebagai metodologi dalam mendapatkan keuntungan sebesar besarnya dalam bertahan hidup. Yang toh pada akhirnya mereka pula yang memabiak uang Negara dan mereka berkata " Kami pun pernah jadi Aktivis, Kami pun pernah idealis dari pada anda". Sudah pasti ini menjadi tameng mereka yang mantan-mantan aktivis.

Sekonyong konyong nya Idealisme selalu menjadi alat pembenaran, menjadi alat legitimasi menghalalkan segalah macam cara dalam menggaet keuntungan dan membesarkan nama mereka. Kenapa tak belajar metodologi saja atau bagaimana mengasah kecerdasan instrumen agar kelak ketika mereka keluar dari kampus mereka bisa gunakan, tak hanya melegitimasi Idealisme mereka sebagai alat pembenaran. Toh pada akhirnya karir mereka berakhir di dalam jeruji katulistiwa, so apakah masih bisa kita katakan mereka sebagai penganut paham idealis.

Ada mantan aktivis...
Saya makin miris yang mana dikatakan mantan aktivis dan mana yang buka aktivis, bila aktivis sebagai pemberontakkan yang menolak marginalisasi berarti Punk, Rege, juga bisa dikategorikan sebagai aktivis. Tapi apakah mereka sudah siap dengan farian farian kenyataan hidup yang membuat mereka untuk tidak berdamai dengan kenyataan. Ternyata tidak banyak teman teman tidak mampu bertahan dengan kalimat Idealisme yang sebenar benarnya.

Ada lagi Masih Aktivis...
Jika masih berarti ruang dan waktu mereka semata-mata akan bertahan pada semboyan idealisme, dan kalimat aktivis, cuman kadang mereka melanjutkan study S2 sebagai pertahanan diri dalam menjunjung kalimat aktivis. Tapi masih ada ada saja yang mengatas namakan perjuangan rakyat, namun mereka juga mendapatkan upeti dari perjuangan itu. Kalau ada ajakan karokean dan relaksasi setelah mereka berjuang dan perjuangan itu dirayakan dengan wine dan miras so pasti saya hanya menikmatinya sebagai kawan, bukan sebagai sahabat. Karena saya pikir hidup ini penuh misteri pertemanan juga sangat berarti dalam membangun kecerdasan emosional, walau kejahatan itu sangat dekat dengan urat nadi.

Nyaris Jadi Aktivis...
Banyak yang phobia dengan ini, mereka hampir saja menjadi aktivis, namun karena benturan kehidupan mereka harus beralih profesi. Hampir saja mereka gunakan kalimat aktivis dan idealis karena mereka sibuk dengan kalimat profesional, maka idealisme bukan tameng mereka. Profesionalisme kata kuncinya

Aktivis Pinggiran Lain Lagi...
Mereka yang tidak memiliki Community jauh dari populer, dan organisasi mereka senang dengan eksitensialis, menganggap hal yang ada diluar dirinya sesuatu yang harus dijauhi. Kesendirian membuat mereka bertahan bahwa paham kedirian adalah keberadaan yang sesungguhnya.

Terlepas dari keempat paket diatas mungkin masih banyak lagi sekopnya cuman ini hanya relaksasi atas kedirian seorang aktivis. Banyak juga aktivis gagal dalam menempah dirinya, itu karena mereka memiliki 1000 alasan dalam menjelaskan kegagalan itu. Bukan juga strateginya yang salah melainkan mereka tidak mampu mengeksekusi strateginya, jadi hasilnya kembali pada Bab 1 dedikasi tanpa henti.

Untuk saat ini sebagai seorang hanya mengamati, baiknya membaca buku-buku mashab chikago, karena mashab frakfurt tidak bisa digunakan sebagai metodologi dalam menempa hidup kekinian. Buku paling praktis yang bagus untuk dibaca adalah " Praktis Bisnis On Line", "Mengembangkan Bisnis Waralaba" dan lain lain. Tentunya saat ini saya sedang menggilai buku-buku inspirasi membangkitkan motivasi hidup. Walau kadang saya harus melongok bacaan andre wongso, abu rizal bakrie dan lain sebagainya. Menghindari berbagai macam kontradiksi kontradiksi justru sedikit meminimalisr kegagalan dalam mengeksekusi strategi.

Logika ini saya tutup dengan mengucapkan selamat tidur dan selamat pagi, Menulislah selagi masih ada waktu...

0 komentar:

Posting Komentar