Minggu, 26 Agustus 2012
07.16
Menuju Walikota Kendari" Pertarungan, Penghianatan Politik dan Pelacuran Politik"
Author:
newsbuzzz
Memasuki akhir-akhir menuju Walikota Kendari tentunya diskusi ini makin menarik untuk diperbincangkan, sementara jualan masing-masing kandidat menjadi menarik untuk dijadikan taruhan politik. Dari skema politik tentunya ini hal menarik pula untuk dirundingkan, karena disini konsep-konsep politik hampir 30% berjalan, lah 70% nya berarti tidak berjalan. Muatan politik datang nya dari bawah, semangat berpolitik itu bukan dari elit tapi datangnya dari Tim Sukses di Grass Root.
Pola ini tentunya sudah menjadi tradisi, dinamika politik sangat menarik jika kita melihat kondisi di akar rumput, walau mereka kadang membentuk dirinya dalam tiga wajah. Hmmm Sambil asik menikmati kopi pagi tentunya sambil menyaksikan lantunan dari para relawan yang sedang mempersiapkan ribuan massanya. Tapi entahlah nama-nama yang mereka masukkan kadang seliweran susah ditebak apakah bener nama-nama itu pendukung fanatik atau daftar nama-nama yang tertulis di batu nisan perkuburan, entahlah mereka juga sedang mencari sesuap nasi.
Mulai dari nomor urut 1, nomor urut 2, nomor 3, Nomor Urut 4 dan 5 masih menampilkan gagasan tetang rangkaian pembengunan Kota Kendari. Dijalan-jalan terterah gambar bernomor urut 1,2,3,4,5 yang semuanya memilki gagasan ideal, tapi apakah gagasan itu bejalan jika mereka gagal dalam pertarungan politik. Nomor Urut 1 menggunakan Take line MAHAR, Nomor urut 2 GEO UNGGUL, Nomor Urut 3 HARUM, Nomor urut 4 SOSOITO dan 5 menggunakan HATINYA.
Pertarungan ini tentunya menarik untuk disimak karena dari pertarungan politik ini akan melahirkan barisan sakit hati yang kalah dari pertarungan politik. Namun cukup menarik bila hal ini dijadikan referensi sejarah yang kedepan akan melahirkan pemimpin Kota Kendari dengan herositas dan flamboyan. Bolehlah kita katakan Kendari menempati urutan ke 86 nomor urut 86 ini teguran buat Kota kendari untuk segera berbenah diri.
Dalam kondisi keterpurukkan ini tentunya kedepan harus menjadi semangat bagi pemimpin kita untuk memperbaiki diri, bukan membangun Pemerintahan dari kulitnya saja. Dimana-mana kita hanya dihiburkan mendapatkan piala Adipura, namun juara Konteng dalam pengelolaan Pemerintahan, Walikota itu bukan Badut yang selalu memberikan hiburan buat rakyatnya. Tapi lebih dari itu urusan Pemerintahan harus dijalankan utamanya pelayanan publik harus berjalan normal bukan membentuk Pemerintahan Dinasti.
Dari semua ini saya melihat mulai lahir penghianat-penghianat Politik, yang kemudian menjadi guyonan dan hiburan dimasa-masa kampanye. Arus massa tentunya tidak bisa diklaim sebagai suara murni pendukung, namun lebih dari itu tentunya mereka sedang beraktualisasi dalam maraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Walaupun penghianat politik itu sudah mendarah daging.
Mulai lagi ribuan massa akan memadati tribun-tribun kampanye, mereka akan meneriakkan yel-yel kampanye, teriakan pelacur-pelacur politik. Nyanyian ini tentunya menjadi pesta rakyat, yang dilakukan lima tahun sekali, berarti lima tahun sekali ini kita menemukan pemimpin kita walaupun setiap kompetisi ini melahirkan Petarung, Penghianat dan Pelacur Politik.
Kendari, 30 Juni 2012
Derlianun Barthesian Latoharu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar